Sebuah Akhir yang Membuat Tak Berakhir: Apresiasi Video "The Last Lecture" (Randy Pausch)
Selasa, Desember 15, 2009Apa yang menjadi penghalang Saya, Anda, atau Kita untuk mewujudkan cita-cita selama ini? Bila hal itu ditanyakan, dapat dipastikan kita akan mencari-cari jawaban. Tentu alasan dapat dicari yang kesemuanya itu mungkin hanya akan menjadi sebuah pembenaran akan tidak terwujudnya cita-cita kita. Setidaknya hal tersebut muncul di dalam benak saya saat menyaksikan penayangan video The Last Lecture di kelas. Disadari kemudian yang terjadi selama ini, saat cita-cita (apapun) itu menyeruak sering kali langkah terasa tertahan, seakan ada tembok besar yang menghalangi. Halangan itu dapat berasal baik dari dalam diri maupun dari luar diri. Saat dihadapkan dengan halangan tersebut, terhentilah langkah dalam menggapai cita-cita yang ada. Dalam video tersebut, diingatkanlah bahwa tembok penghalang tersebut sudah semestinya kita hancurkan.
Menarik untuk diketahui, ternyata orang yang berbicara dalam video itu menyatakan bahwa dirinya telah divonis tak memiliki umur panjang lagi karena kanker. Namun, tak nampak sedikitpun dari dirinya yang menunjukkan tanda-tanda keputusharapannya. Malah sempat saya menduga dengan terbatasnya pengetahuan saya tentang dirinya, ia itu hanya bergurau soal waktu hidupnya yang sudah tidak lama lagi itu.
Orang yang saya bicarakan adalah Randy Pausch, seorang prosesor dalam bidang ilmu komputer di Carnegie Mellon University, Pennsylvania, Amerika Serikat yang terkenal karena kuliah terakhir yang ia berikan di kampus tersebut. Nyatanya dugaan saya salah. Setelah saya coba googling di internet, saya baru ngeuh. Randy Pausch ini meninggal dunia karena penyakit kanker pankreas yang dideritanya. Bahkan pada Agustus dua tahun sebelumnya, ia sempat divonis oleh dokternya bahwa dia hanya bisa tetap sehat sekitar tiga atau enam bulan ke depan. Keberanian yang ditunjukan oleh Randy Pausch dalam menghadapi takdirnya itulah yang membuat ia terkenal dan dikenang hingga saat ini, dan "The Last Lecture"-nya itu telah berhasil menginspirasi banyak orang termasuk saya.
Apa kita perlu tahu kapan kita mati terlebih dahulu untuk bisa mendobrak penghalang dalam meraih cita-cita kita?
Ia mengisahkan perjalanan hidupnya dari kecil beserta cita-cita masa kecilnya. Kuliah yang ia bawakan itu memang berjudul "Really Achieving Your Childhood Dreams". Ia menceritakan bagaimana impian masa kanak-kanaknya secara terperinci yang baginya mungkin pada saat itu dan saya sebagai yang menonton, impian atau cita-cita itu sangat tidak rasional. Namun, ia menceritakan bagaimana semua cita-citanya itu menemukan jalannya karena ia mendobrak yang menjadi halangan. Tidak secara mutlak persis yang dicita-citakan saat anak-anak memang, tapi cita-citanya tersebut dapat terwujud dengan bentuk yang “lebih sempurna” bagi dirinya saat dewasa. Sebagai contoh, ia pada masa anak-anak itu bercita-cita menjadi Kapten Klirk, seorang tokoh fiktif di film Star Trek. Yang terwujud adalah ia malah bertemu dengan pemeran tokoh tersebut dan mendapatkan banyak pelajaran dari aktor tersebut dan malah ia pun bersahabat dengannya. Contoh lain adalah pada masa anak-anak itu ia berpikir ingin hidup di ruang hampa udara. Entah apa yang ada di dalam benak Randy kecil tersebut. Nyatanya ia dapat mewujudkan cita-citanya tersebut. Ia menjadi yang terpilih untuk merasakan ruang hampa udara yang diciptakan NASA. Dan masih banyak cita-cita lainnya yang semuanya itu ia anggap dapat terwujud dan tak ada keraguan tentangnya. Ia berhasil mendobrak dinding-dinding penghalang yang menghalangi langkahnya untuk meraih cita-citanya.
Perasaan bahwa cita-cita seperti apapun akan sulit atau mustahil terwujud karena terlalu tinggi atau mungkin irrasional adalah sebuah tembok pertama yang muncul dari dalam diri yang harus dihancurkan. Namun tetap, seirrasional apapun cita-cita kita, upaya yang dilakukan dalam rangka mewujudkan cita-cita tersebut haruslah tetap rasional. Setidaknya pelajaran itulah yang didapatkan dari video berdurasi sekitar 75 menit itu.
Saya menemukan kenyataan lain dan pelajaran dari seorang Randy Pausch. Pada 15 Agustus 2007, Profesor Randy Pausch ditemani Jai pergi ke Houston untuk melihat hasil CT scan terakhir. Saat itu, dirinya harus menerima kenyataan pahit bahwa berbagai pengobatan yang dilakukan tak mampu menjinakkan kanker pankreas dalam tubuhnya. Dokter mengatakan bahwa 10 tumor di levernya membuat hidup sang profesor hanya tersisa tiga hingga enam bulan lagi.
Dilihat secara fisik, Randy tampak baik-baik saja. Bahkan saat mengisi seri kuliah terakhir di Carnegie Mellon University (CMU) tersebut, Randy melakukan push up bahkan push up dengan satu tangan. Randy tentu saja tak ingin menerima penyakit mematikan tersebut, tetapi iia sadar bahwa dirinya tak kuasa untuk mengubahnya. “Kita tidak bisa mengubah kartu-kartu yang dibagikan kepada kita, kecuali bagaimana cara kita memainkan,” ucap Randy. Randy tak ingin terpuruk karena takdir. Ia tetap tegar dan tak patah semangat dalam menjalani sisa hidupnya. Buku “The Last Lecture” dikembangkan dari kuliah terakhir yang diberikan oleh Randy Pausch pada 18 September 2007 di CMU, Pittsburgh, Pennsylvania.
Jeffrey Zaslow, seorang kolumnis bagi Wall Street Journal, membantu Randy untuk menuangkan kisah hidupnya dalam kumpulan kisah tertulis yang terbagi dalam enam bab. Ide membuat buku “The Last Lecture” ini muncul ketika Zaslow ikut menyaksikan kuliah terakhir yang menyentuh audience termasuk dirinya. Setiap pagi, Randy bersepeda sambil menelepon Jeffrey Zaslow untuk berbagi cerita yang hendak diwariskannya melaui headset ponselnya.
Randy benar-benar lebih banyak berbagi kiat-kiat mengenai bagaimana ia benar-benar mewujudkan impian- impiannya semasa kecil. Impian Randy yang lain mulai usia delapan tahun itu antara lain : bermain di liga sepak bola nasional, menulis artikel tentang ensiklopedi buku dunia, dan menjadi perekayasa di Walt Disney. Impiannya bermain di National Football League tak bisa terwujud, namun Randy tak pernah berhenti bermain sepak bola sebagai hobinya. Bahkan dokter Mehmet Oz sering diajaknya bermain saat berkunjung ke rumah Randy.
Selain dapat mewujudkan impiannya sendiri, Randy juga membantu mewujudkan impian orang lain, salah satunya adalah Tommy. Tommy adalah mahasiswanya ketika masih mengajar di University of Virginia. Tommy ingin ikut mengerjakan film Stars Wars berikutnya. Itu adalah impian Tommy saat berumur enam tahun dan saat itu dipercaya bahwa Stars Wars tidak akan dibuat sekuelnya. Tommy banyak belajar tentang pemrograman realitas maya pada Randy dan selalu ingat akan kata-kata yang pernah Randy ucapkan padanya. Hinnga akhirnya pada kenyataannya, Tommy menjadi Direktur Teknis Utama dalam Stars Wars Episode II : Attack of the Clones.
Randy juga bercerita tentang ayah dan ibunya yang banyak memberikan pelajaran-pelajaran positif dalam hidupnya serta mendukungnya mewujudkan impian-impiannya. Ayahnya adalah seorang anggota korp medis dalam Perang Dunia II yang ikut bertugas dalam Pertempuran Bulge. Ayahnya selalu memberikan nasihat tentang bagaimana menegoisasi hidup ini. Sementara ibunya adalah seorang guru bahasa Inggris yang selalu berusaha keras membuat anak-anak didiknya pandai. Orangtuanya mengajarkan Randy serta kakaknya untuk hidup hemat dan dermawan. Ayahnya yang didiagnosa menderita leukemia pada usia 83 tahun mengatur agar tubuhnya disumbangkan untuk ilmu kedokteran.
Lalu mengenai pertemuannya dengan Jai di University of North Carolina hingga pernikahan mereka yang dirayakan di halaman sebuah rumah bergaya Victoria di Pittsburgh. Mereka membuat momen tersebut menjadi tak terlupakan dengan tidak menaiki mobil saat meninggalkan resepsi, namun dengan menaiki keranjang balon udara yang sangat besar dan berwarna-warni.
Randy sangat mencintai dan menghargai Jai. Jai yang selama ini selalu menjadi penyemangatnya. Bahkan Randy tak bersedia menukar delapan tahun usia pernikahan mereka dengan apa pun juga. Pada pemberian kuliah yang terakhir, satu hari setelah ulang tahun Jai, Randy mengajak empat ratus orang yang datang untuk menyanyikan lagu “Happy Birthday to Jai”. Mereka berpelukan dan berciuman. Selagi mereka berdekapan, Jai berbisik, “Tolong, jangan mati.” Randy menjawab dengan memeluknya lebih erat.
Banyak sekali yang ingin disampaikannya Randy untuk anak-anaknya sebelum dirinya meninggal. Namun dengan usianya yang masih begitu kecil, mereka tentu tak mengerti dan tak bisa mengingatnya. Dylan masih berusia enam tahun, Logan berusia tiga tahun, sedangkan Chloe berusia delapan belas bulan. Oleh karena itu, sebenarnya “The Last Lecture” ini dipersiapkan untuk ketiga anaknya. Ia berharap pelajaran-pelajaran hidup yang disampaikannya dapat menjadi panduan bagi anak-anaknya untuk menjalani hidup mereka tanpa kehadiran ayahnya secara fisik. Randy mengungkapkan bahwa ia mempersiapkan “The Last Lecture” sebagai warisan bagi istri dan tiga anak-anaknya, Dylan, Logan, dan Chloe. Untuk ketiga anaknya, Randy ingin mereka menjadi apa yang mereka inginkan. Randy tahu mereka bisa menemukan jalan mereka sendiri dan berkembang dengan potensi mereka masing-masing.
“Tembok penghalang berdiri di sini karena suatu alasan, bukan untuk menghalangi kita. Tembok ini ada untuk memberikan kita kesempatan untuk menunjukkan sekuat apa kita menginginkan sesuatu,” pesan Randy. Randy juga menyebutkan pentingnya menghargai setiap momen yang ada, karena momen tersebut tak akan bisa untuk di-replay layaknya video.
Kisah Randy pun ternyata mencuri perhatian Oprah Winfrey hingga Randy diundang dalam acara “Oprah Winfrey”. Kemudian, ia juga dinobatkan majalah Time sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia sepanjang tahun 2007 karena kisahnya yang mau membangkitkan semangat.
Akhirnya, Randy meninggal di usia 47 tahun tepatnya 25 Juli 2008. Ia bersyukur sebelum hari kematiannya tiba, ia bisa mempersiapkan dan meninggalkan warisan yang jauh lebih berharga daripada tambang emas.
Referensi Tambahan
www.infomenarik.info
www.kedaikarir.com
www.motivasihidup.com
Pada Ngapain Pemuda?
Senin, November 30, 2009
Sebuah pesan masuk beberapa waktu yang lalu dari Forum Diskusi Pemuda Indonesia,
"hampir semua organisasi mahasiswa, ekternal kampus khusus nya, mengalami masalah yang sangat besar dalam hal pengkaderan...
sepertinya mahasiswa sangat apatis terhadap organisasi, hal ini terbukti dari anggota yang berniat menjadi organisasi. setiap tahun mahasiswa yang berminat masuk dalam organisasi semakin berkurang.
hal ini sangat mempengaruhi proses pengkaderan dalam organisasi, PMKRI, GMNI, GMKI, PMII, HMI, dll. mengalami hal yang sama setiap tahunnya.
apakah memang fenomena ini disebabkan oleh fokus mahasiswa yang ingin segera lulus kuliah karena ongkos kliah yang semakin besar???"

Mungkin tepat juga argumentasi dari persoalan yang diungkapkan di atas. Persoalan ini dirasakan oleh mahasiswa sendiri yang punya "awareness". Diungkapkan oleh salah seorang yang dapat dikatakan aktivis di kampusnya, Presiden BEM Psikologi UPI, Indra Wahyudin bahwa mahasiswa sekarang jauh dari interpretasinya terhadap mahasiswa saat bergelora reformasi dan saat terkenang sejarah bangsa. Pemuda khususnya mahasiswa sudah tidak pada posnya sebagai agent of change. Kemana mereka?
Soe Hok Gie pernah mengungkapkan sebuah pemisalan untuk mahasiswa. Dikatakan olehnya bahwa mahasiswa itu seperti pertapa yang turun gunung saat ada masalah dan mengharuskannya turun gunung. Rupanya pertapa itu kini sudah bernyaman-nyaman di gunung atau dapat dikatakan sudah merasakan comfort zone-nya. Di benaknya saat ini di kaki gunung sedang tidak ada masalah. Adapun pertapa-pertapa yang turun gunung pun itu tidak dilakukan secara masif. Hanya suatu riak-riak tanda tak dalam. Bentuk gerakan pun masih menggunakan paradigma lama yang masih merasa ada dalam belenggu penguasa.
Sekarang sudah beda. Mungkin itu juga alasannya agen-agen itu melempem. Sudah tidak ada lagi tekanan secara langsung kepada mahasiswa yang membuatnya berontak. Adapun soal biaya pendidikan yang dinilai tinggi itu masih dalam kerangka relativitas. Wong, yang bisa kuliahnya saja adalah orang-orang yang sudah dipastikan kaya atau berkecukupan.

Fenomena lain yang tertangkap sebagai salah satu "pemghuni gunung", persoalan berkutat soal asmara alias ketertarikan terhadap lawan jenis, atau orang-orang mereduksinya menjadi cinta. Mahasiswa itu kini sibuk dengan urusan percintaannya. Entah apa yang dicarinya. Walaupun memang ada banyak teori yang mengungkapkan bahwa manusia itu memiliki kebutuhan untuk berkasih sayang, persoalan itu menjadi lucu saja bila dijadikan satu-satunya persoalan yang ada di dalam kepala. Diakui, sensasi dari rasa itu sangat dalam hingga dapat memengaruhi jiwa dan raga. Namun, kemana larinya power dari pemuda atau mahasiswa yang terpendam itu. Akhirnya lapuk ditelan waktu dan mati seiring melemahnya fisik.
Bagaimana bila itu telah terjadi. Tenang saja. Generasi yang demikian itu akan membangkai dan hanyut bak kotoran yang dimakan ikan-ikan di kali. Akan ada generasi yang menggantikan. Itu janji Sang Pencipta. Apakah kita termasuk generasi yang tergantikan itu yang tidak meninggalkan jejak di muka bumi ini terkecuali batu nisan kita yang mungkin akan tergusur pula suatu saat kelak? Menyedihkan.

Masih sangat terbuka untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri dan kepedulian untuk mengatasi persoalan bangsa di tengah persoalan hati yang pasti akan terpecahkan dengan dikaruniakannya jodoh yang sudah dijanjikan oleh Sang Pencipta kepada ktia. Tak perlulah saat ini pikiran ini dipusingkan oleh persoalan yang sudah pasti dan tak perlu dipersoalkan lagi.
Pesan dari seorang inspirator yang rutin nongol di layar kaca, Mario Teguh memberi nasihat, "
Sadarilah bahwa semua yang bernilai nanti, dimulai dari yang bernilai sekarang.
sumber foto:suarapembaruan.com
chip.co.id
asafortuneteller.com
gramediamatraman.files.wordpress.com
Panah dan Petir
Minggu, November 29, 2009

Hati tertusuk oleh anak panah lalu retak bak kilatan petir lalu tertusuk lagi dan retak lagi. Hmm...bukan tak percaya lagi akan perasaan yang ada di hati itu, pasangan hidup itu sudah ada dari sananya, ditentukan oleh Sang Pencipta sejak belum terlahir sekalipun. Nikmat rasanya meratapinya, apalagi bila menjalaninya, terlebih bila nafsu turut serta. Namun, kisah itu selalu tercegah. Ada saja alasannya. Tak pernah berlangsung. Hanya ada di hati.Apa benar cinta itu ada di hati? Tapi akal berpikir dan memori mengoreksi akan pengalaman yang sudah-sudah. Begitu menyenangkan saat menghinggapi lalu begitu sakit saat baru ingin dijalani. Kisah itu selalu tercegah. Ada saja alasannya. Bila cinta urusan hati, di mana akal sehat itu dan di mana nafsu bersemayam. Apakah itu murni cinta tulus dari hati atau hanya nafsu yang menggelora, menyeruak, memaksa, dan terasa begitu indah.
Akal mengangkat banding. Apa nafsu akan diperturutkan. Untuk pihak nafsu, segalanya telah sempurna, tanpa cela. Pikiran mengajukan kasasi. Apa ini, cinta atau nafsu? Hahaha (tertawa kering)...sudahlah. Semuanya akan berlalu. Kisah itu selalu tercegah. Ada aja alasannya. Sang Pencipta seakan memberikan halangan-halangan untuk memulai kisah itu. Cukup hanya menghinggapi di awal tapi tak berkelanjutan.
Tertanam dalam hati yang berpikir, pasangan hidup telah ditentukan-Nya dan pasti itu yang terbaik. Yang harus dipastikan kita menjadi hamba yang terbaik pula di hadapan-Nya. Urusan cinta itu pun anugerah-Nya. Nafsu harus selalu dipenjara walau kadang ia terlepas dari kawalan. Semoga hati ini tetap terjaga untuk selalu berpikir.
Tak perlulah ketertarikan itu menghanyutkan. Kalaulah dia belum tepat, kisah itu akan selalu tercegah dengan berbagai alasan. Busur panah itu jangan terlalu mudah dilesatkan hingga anak panahnya tak tentu arah dan menusuk hati yang tidak tepat. Dengan adanya petir yang bisa meremukan hati seperti yang sudah terjadi dulu-dulu, itu hanya akan menguatkan hati untuk semakin berpikir.
Bolehlah otak dikatakan sebagai pusat saraf dan memori dan mengkodinasi seluruh tubuh, namun tetap hati adalah segala. Tempat jiwa bersemayam. Ia harus tahan akan tusukan anak panah dan petir yang kini begitu deras menerpa.
sumber foto:
panah: ipincute.blogspot.com
hati: funmunch.com
petir: belajarhidup.files.wodpress.com
Singkat dari Senior SMA 2 Bandung, Arief A. Sudjono
Kamis, November 19, 20093 Hal yg tidak pernah kembali: - Waktu - Perkataan - Pengalaman.
3 Hal yg menghancurkan: - Kemarahan - Kesombongan - Keserakahan.
3 Hal Tidak Boleh Hilang: - Kasih - Suka Cita - Damai sejahtera.
3 Hal Tidak Pernah Kekal - Harta - Jabatan - Cinta Manusia.
3 Hal Membuat Kita Berharga: - Komitment - Kerendahan Hati - Kejujuran
Terima kasih
Arief A. Soedjono '80
Berani Mencatut. Yang Penting Berani. Memang Tahu Apa itu Berani?
Jumat, November 06, 2009
Berikut isi milisnya:
Apa yang dimaksud dengan keberanian dan bagaimana menggunakannya untuk kebaikan dan keberhasilan kita ?
• Keberanian adalah sesuatu yang kita miliki untuk : mengalahkan nafsu, kesombongan dan juga kemalasan. Contoh : dalam badai, anginnya dapat kita sebut sebagai keberanian sedangkan nafas kita itulah rasa percaya diri.• Bukan hanya seorang pria sebagai kepala keluarga yang perlu memiliki keberanian , sebagai ibu rumah tangga-pun sangat diperlukan untuk dapat menjadi pribadi yang kuat karena perlu untuk memberangkatkan suami mencapai keberhasilan dan juga membawa anak-anaknya menjadi pribadi super yang membanggakan.
• Apa yang perlu dilakukan bila ada tawaran pekerjaan yang akan mendapatkan penghasilan besar tetapi diminta untuk melakukan yang tidak baik ? Ingatlah bahwa sering hal-hal yang tidak berkah itu digunakan menjadi penukar kasih sayang Tuhan . Bagi Pribadi yang kuat tidak akan menukar Tuhan dengan begitu murahnya.
• Bagaimana dengan orang yang punya masalah tetapi punya kecenderungan memelihara masalah itu ? Masalah is not a problem, masalah is a priority. Jadi segera selesaikan yang harus segera diselesaikan karena bila ditunda akan menimbulkan masalah yang lain. Masalah timbul karena : tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan dan melakukan yang seharusnya tidak kita lakukan. Dan setiap masalah ada solusinya. Buktinya adalah ada orang yang sudah pernah melalui masalah yang sama dan berhasil mengatasi, bahkan ada yang masalahnya lebih besar dari kita.
• Apa beda confidence dengan arogan ? Sombong adalah rasa percaya diri yang dilihat orang yang dibawah bila : yang diatas cara-caranya tidak baik dan yang dibawah hati dan pikirannya tidak baik. Tetapi bila yang dibawah hati dan pikirannya baik, yang diatas berlaku dengan cara-cara yang tidak baik, yang diatas-lah yang disebut sombong. Jadi kita diminta untuk : me-majukan kebaikan dan menasehatkan kebenaran akibatnya yang dibawah diangkat dan yang diatas dimuliakan.
• Bagaimana menjadikan ide yang kita sampaikan mudah diterima ? Apabila sebuah ide ditolak, sesungguhnya yang ditolak bukanlah idenya melainkan orangnya. Jadi diperlukan perbaikan dalam sikap dan cara-cara kita.
• Bangunlah rasa percaya diri dengan rasa hormat yang baik kepada diri sendiri dan yang menjadi pembunuh rasa percaya diri seringkali adalah diri sendiri. Pemenang yang sesungguhnya adalah yang berhasil menang melawan nafsu, rasa malu yang tidak perlu dan pikiran-pikiran yang negatif . Nilailah apa saja yang telah dilakukan kepada diri sendiri. Jadilah pribadi yang lebih damai yang mampu bersikap baik kepada diri sendiri dan juga orang-orang yang kita layani.
Terima kasih Mas Bambang Gautama.
Masa Depan KPK Dapat Ditebak (Balada Rumah Tikus Bag.1)
Kamis, November 05, 2009
Sekitar dua tahun lalu, KPK mengadakan Training For Training atau diistilahkan TOT. Saya menangkap tujuan dari acara itu adalah untuk membentuk fondasi dalam pemberantasan korupsi yang pada lalu, masa kini, dan masa depan disebut sebagai persoalan bangsa yang besar. Maksud acara itu adalah upaya KPK untuk memberantas korupsi secara preventif, mengingat selama itu dan mungkin sampai sekarang upaya KPK untuk memberantas KPK masih nampak berkutat dengan tindakan represif berupa penangkapan pelaku tindak pidana korupsi. Disebut pada saat itu, satu koruptor mungkin dapat ditangkap tetapi tidak ada jaminan tidak akan terlahir koruptor-koruptor baru dengan keganasan yang lebih, ibarat mati satu tumbuh seribu.
Pada TOT itu, mahasiswa dikumpulkan dan dipersiapkan untuk menjadi volunteer kampanye antikorupsi ke sekolah-sekolah. Salah satu bukti nyata dari kegiatan kampanye itu adalah adanya warung kejujuran di sekolah-sekolah yang sudah "dijambangi" tim dari mahasiswa yang telah di-TOT sebelumnya. Tentu respon dan spirit positif mengeruk dalam forum yang berlangsung satu hari itu. KPK mulai membentuk upaya yang sistemik dalam memberantas tindak pidana korupsi itu dengan mengajak keterlibatan seluruh masyarakat. Sepertinya ada sesuatu yang tidak ada dalam pikiran Komisi Pemberatasan Korupsi bentukan pemerintah ini.
Sebagaimana sempat diutaran dalam forum TOT itu, negara ini adalah sistem seperti halnya tubuh yang memiliki sistem yang kompleks. KPK hadir bak sel darah putih yang diproduksi oleh sistem tubuh untuk membunuh racun. Hal yang sepertinya tidak disadari KPK adalah racun bernama korupsi itu telah menyerang dan menyatu dengan sistem utamanya. Diketahui dalam ilmu biologi bahwa sel darah putih itu punya kemampuan untuk membunuh atau memusnahkan racun, makhluk miskroskopis, dan sistem tubuh sekalipun. Kita mungkin mengenal penyakit leukimia, sebagai penyakit yang diakibatkan karena kelebihan sel darah putih. Sistem utama tentu takkan semudah itu membiarkan adanya penggerogotan dari dalam. Sel darah putih sudah barang tentu akan dibatasi kekuatannya untuk mencegah hal itu terjadi.

Itulah hal yang dipertanyakan saat itu. Apakah sistem akan memberikan KPK keleluasaan penuh untuk beraksi . Wacana yang keluar saat itu adalah akan dan telah terasanya upaya pemandulan KPK dari sistem yang melahirkannya. Pikiran ini masih tersimpan dalam benak dan masih perlu dipertanyakan. Ternyata sekarang semuanya telah terbukti. KPK benar-benar sel darah putih yang sedang menggerogoti sistem ini. Sebagai sistem yang korup, tentu hal itu takkan dibiarkan sebelum memusnahkan sistem itu sendiri. Dua institusi besar di sistem negara ini turut serta melumpuhkannya. Hal ini telah ada di pikiran, sehingga saat pergelaran "Pemandulan KPK" masuk babak seru-serunya, itu bukan hal yang mengejutkan lagi.
KPK, kamu ada di rumah yang salah.
Rumah reyot itu telah penuh tikus yang merusak. Tikus-tikus itu dapat dibasmi tapi tentu tikus-tikus itu pun dapat berkembang biak lebih banyak lagi.
Bagaimana kita punya rumah yang nyawan? Butuh pikiran yang out of the box untuk menjawabnya.
Selamat berpikir.
Balada rumah tikus masih akan berlanjut.
Six Questions
Sabtu, Oktober 17, 2009
Enam pertanyaan diajukan oleh Imam Al-Ghazali saat berkumpul dengan murid-muridnya pada suatu hari.
Pertanyaan Kesatu.
Imam Ghazali : “Apakah yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini?
Murid 1 : “Orang tua”
Murid 2 : “Guru”
Murid 3 : “Teman”
Murid 4 : “Kaum kerabat”
Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling dekat dengan kita
ialah MATI. Sebab itu janji Allah bahwa setiap yang bernyawa pasti akan mati
( Surah Ali-Imran :185).
Pertanyaan Kedua.
Imam Ghazali : “Apa yang paling jauh dari kita di dunia ini?”
Murid 1 : “Negeri Cina”
Murid 2 : “Bulan”
Murid 3 : “Matahari”
Murid 4 : “Bintang-bintang”
Iman Ghazali “Semua jawaban itu benar. Tetapi yang paling benar adalah MASA
LALU. Bagaimana pun kita, apa pun kendaraan kita, tetap kita tidak akan dapat kembali ke masa yang lalu. Oleh sebab itu kita harus menjaga hari ini, hari esok dan hari-hari yang akan datang dengan perbuatan yang sesuai dengan ajaran Agama”.
Pertanyaan Ketiga.
Iman Ghazali : “Apa yang paling besar di dunia ini?”
Murid 1 : “Gunung”
Murid 2 : “Matahari”
Murid 3 : “Bumi”
Imam Ghazali : “Semua jawaban itu benar, tapi yang besar sekali adalah HAWA NAFSU (Surah Al A’raf: 179). Maka kita harus hati-hati dengan nafsu kita, jangan sampai nafsu kita membawa ke neraka.”
Pertanyaan Keempat.
IMAM GHAZALI : “Apa yang paling berat di dunia?”
Murid 1 : “Baja”
Murid 2 : “Besi”
Murid 3 : “Gajah”
Imam Ghazali : “Semua itu benar, tapi yang paling berat adalah MEMEGANG AMANAH (Surah Al-Azab : 72 ). Tumbuh-tumbuhan, binatang, gunung, dan malaikat semua tidak mampu ketika Allah SWT meminta mereka menjadi khalifah pemimpin) di dunia ini. Tetapi manusia dengan sombongnya berebut-rebut menyanggupi permintaan Allah SWT sehingga banyak manusia masuk ke neraka kerana gagal memegang amanah.”
Pertanyaan Kelima.
Imam Ghazali : “Apa yang paling ringan di dunia ini?”
Murid 1 : “Kapas”
Murid 2 : “Angin”
Murid 3 : “Debu”
Murid 4 : “Daun-daun”
Imam Ghazali : “Semua jawaban kamu itu benar, tapi yang paling ringan sekali di dunia ini adalah MENINGGALKAN SHALAT. Gara-gara pekerjaan kita atau urusan dunia, kita tinggalkan shalat “
Pertanyaan Keenam.
Imam Ghazali : “Apa yang paling tajam sekali di dunia ini? “
Murid- Murid dengan serentak menjawab : “Pedang”
Imam Ghazali : “Itu benar, tapi yang paling tajam sekali di dunia ini adalah LIDAH MANUSIA. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan saudaranya sendiri ”
Semoga bisa menjadi renungan bagi kita semua...
(Diambil dari beberapa sumber)
Do You Believe in Me?
Jumat, Oktober 09, 2009
Sahabat, dalam kehidupan ini tentunya kita pernah merasa ragu karena orang lain meragukan dan tidak mempercayai kita dalam mencapai impian dan cita-cita. Pertanyaannya, seberapa lamakah kita akan membiarkan keraguan-keraguan itu menghalangi impian kita? Lalu apa yang akan kita lakukan jika ketidakpercayaan itu berasal dari orang-orang terdekat kita? Suatu sore ketika saya sedang mengajar dirumah salah satu murid saya, sang ibu sedang berbicara dengan kakak dari murid saya yang berkata,”Sudahlah, kamu itu tidak akan bisa berbisnis, sudah kerja aja sana ditempatmu, kamu tidak punya bakat bisnis, nanti malah rugi sekalian.” Alangkah sedih perasaannya ketika keluarganya sendiri tidak percaya kepada kemampuannya dan menyepelekan impiannya. Mungkin diantara kita ada yang pernah merasakan hal ini. Dulu saya pun pernah diremehkan dan diragukan oleh teman-teman saya akan cita-cita dan impian. Tetapi saya tidak membiarkan pendapat mereka berlangsung lama. Ketika orang-orang ragu akan keputusan saya, tidak akan saya biarkan pikiran ini berfokus pada yang menghalangi keberhasilan, salah satu guru saya untuk tetap fokus pada impian-impian saya adalah didikan Pak Mario Teguh. Saya percaya kepada diri sendiri bahwa saya bisa mencapai apa yang saya inginkan. Dan masih banyak orang yang percaya dengan hal ini. Jangan izinkan orang lain berkata bahwa kita tidak bisa melakukan apa yang ingin kita capai.
Sebuah film yang sangat menginspirasi yaitu A Pursuit of Happiness benar-benar mendidik kita untuk tetap memegang impian kita, berjuang dengan ketekunan, pantang menyerah dan selalu melibatkan Tuhan dalam setiap usaha kita. Walaupun ada yang meragukan kita, itu bukanlah penghalang. Keraguan yang paling berbahaya adalah jika kita sendiri yang meragukan diri kita sendiri. Walau terkadang dalam mewujudkan impian selalu ada penderitaan dan hambatan. Namun itu semua adalah proses pembentukan jati diri kita agar lebih kuat dan sabar. J.K Rowling pun pernah diragukan dan tidak dipercaya oleh para editor dan publisist ketika dia menaruh tulisannya ke berbagai penerbit, banyak yang berkata bahwa novelnya tidak akan laris, akan sedikit sekali yang membaca dan berbagai kata-kata yang mengecilkan hati. Tetapi apakah dia berhenti menulis? Tidak. Dia terus maju dan mengispirasi banyak orang, alhasil novel yang begitu terkenal Harry Potter itu terbit juga setelah penantian yang sangat lama. Selanjutnya para sahabat Super pasti sudah tahu apa yang terjadi dengan hasil dari novel Harry Potter. Apakah ada yang menyangka hal yang begitu spektakuler ini akan terjadi dalam hidup seorang J.K Rowling? Seorang wanita yang pernah begitu miskin mempertarungkan hidupnya, diremehkan dan tidak dipercaya. Namun Tuhan Yang Maha Baik menjawab semua kerja kerasnya. Hanya saja terkadang kita yang kurang sabar dalam penantian sehingga kita tidak mendapatkan apa yang kita inginkan padahal jika kita lebih mau bijaksana dan bersabar, kita akan segera mendapatkannya, tentunya dengan kerja keras dan berserah diri pada Yang Maha Pemurah.
Sahabat Super yang bijak hatinya, alangkah indahnya jika kita bisa saling mendukung kepada keluarga, teman-teman untuk bisa mencapai impian-impiannya. Membangkitkan kepercayaan diri kepada sesama untuk lebih bersemangat dalam melanjutkan proses hidupnya yang kelak akan menginspirasi banyak orang. Oleh karenanya kepada setiap pribadi Super yang selalu mengejar impiannya untuk mensejahterahkan orang banyak, jika anda bangun pagi, bercerminlah dan katakanlah kepada refleksi super yang terpancar itu, “Do You believe in me? I can become anything and I can do everything because You believe in Me.”
Anda hanya sebesar yang mungkin bagi Anda.
Janganlah berkata tidak mungkin bagi yang ingin Anda capai.
Pembatasan pertama bagi yang mungkin Anda capai dimulai dari pendapat Anda sendiri mengenai yang mungkin atau yang tidak bagi Anda.
Segera setelah Anda memutuskan sesuatu itu tidak mungkin Anda capai, Anda akan menggunakan semua kemampuan pikiran dan perasaan Anda untuk membuktikan bahwa itu tidak mungkin.
Dan hebatnya, setelah itu Anda akan memulai proses mengeluh dan mengasihani diri sendiri yang merasa tidak diperlakukan adil oleh dunia ini.
Maka, janganlah Anda menggunakan pikiran dan perasaan Anda sebagai pembatal kemungkinan bagi yang ingin Anda capai.
Apa pun yang Anda inginkan, mungkinkan!
sumber foto: blog.lib.umn.edu
lessons.astrology.com
Saya itu Petualang?
Jumat, Oktober 02, 2009
Petualang
Energik, penuh vitalitas, aktif dan optimis. Orang-orang bertipe ini ingin memberi sumbangsih bagi dunia. Mereka menyembunyikan emosi-emosi yang tidak menyenangkan, termasuk rasa takut. Keunggulan : menyenangkan, spontan, imajinatif, produktif, antusias, gesit, yakin, memesona, dan selalu ingin tahu. Kejelekan : narsistik, impulsif, tidak fokus, memberontak, tidak disiplin, posesif, maniak, merusak-diri, dan berubah-ubah. Cara bergaul dengan saya : Berikan saya persahabatan, kasih sayang dan kebebasan. Bekerjasamalah dengan saya untuk merangsang obrolan dan canda tawa. Hargailah visi hebat saya dan dengarkan cerita saya. Jangan berusaha mengubah gaya saya. Terima saya apa adanya. Bertanggungjawablah atas dirimu sendiri. Saya tidak suka orang yang mengikuti dan bergantung pada orang lain. Jangan katakan apa yang harus saya lakukan.
Pendeskripsian dari Tipe Kepribadian ini cenderung akurat dan sesuai dengan sebenarnya. Betapa bahagianya tahu kepribadian diri sendiri.
sumber foto: geografer.deviantart.com


